AJANG NASIONAL OASE, STIT HAMZAH FANSURI SIAP MERAIH PRESTASI BARU

Ajang Mahasiswa/i pada Olimpiade Agama, Sains dan Riset (OASE) tahun 2021 yang diikuti oleh seluruh Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) di Indonesia, termasuk Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Hamzah Fansuri Kota Subulussalam menoreh kebanggaan. Abidin adalah salah satu mahasiswa STIT Hamzah Fansuri yang ikut meramaikan ajang yang dilaksanakan di Banda Aceh tersebut. Abidin sendiri telah menempati posisi sebagai kontestan terpilih cabang Qiraatul Kutub Putra setelah melewati berbagai proses seleksi.

Sebagai perwakilan dari STIT Hamzah Fansuri, terpilihnya Abidin memang cukup membanggakan. Sebab, Kota Subulussalam memang memiliki nama lain sebagai ‘Kota Santri’. Pelabelan nama ‘Kota Santri’ tentunya berasal dari banyaknya santri-santri berbakat di Kota Subulussalam. Kendati demikian, masih amat minim ajang nasional yang melibatkan santri berbakat di tingkat yang lebih besar.

OASE merupakan ajang Nasional yang mendapatkan perhatian publik yang cukup besar. Pasalnya, ajang bergengsi ini memang melihat potensi-potensi yang tersebar di seluruh daerah Indonesia. Kesempatan ini dibaca oleh Ketua STIT Hamzah Fansuri, Dr Musriaparto, M.M sebagai ajang penting untuk menunjukkan potensi Subulussalam Kota Santri dan STIT Hamzah Fansuri sebagai PTKI yang menanungi Mahasiswa di Subulussalam. “STIT Hamzah Fansuri akan terus mendukung, membentuk dan mendampingi mahasiwa/i yang berbakat agar mampu mengukir prestasi di berbagai bidang, khususnya di bidang Keagamaan Islam.” ujar Ketua STIT Hamzah Fansuri yang memiliki fokus penelitian di bidang Hadis itu.

STIT Hamzah Fansuri memang memiliki kapasitas yang mumpuni dalam menjaring alumni pesantren agar menempuh Sekolah Tinggi. Tercatat sampai hari ini, STIT Hamzah Fansuri memiliki sebaran alumni yang berkiprah di dunia pesantren, dari mulai tenaga didik, sampai pengelola pesantren/dayah.

Ajang OASE tersebut bukanlah satu-satunya ajang yang diikuti oleh STIT Hamzah Fansuri, melainkan ada berbagai ajang lokal yang juga menorehkan prestasi. Untuk mempersiapkan prestasi lainnya, STIT Hamzah Fansuri tetap fokus membentuk atmosfir intelektual di kampus dengan workshop, seminar dan berbagai program-program pembelajaran yang berperan besar pada perkembangan ilmu pengetahuan di Kota Subulussalam.

“Tidak hanya mendukung dengan kalimat retoris belaka, STIT Hamzah Fansuri membuktikan telah mempersiapkan sarana dan prasarana yang sangat membantu mahasiswa/i dalam menemukan bakat dan potensinya masing-masing. Karena saya meyakini kepintaran bukanlah bawaan lahir, kepintaran adalah hasil dari pembentukan karakter dan disiplin belajar yang mesti didukung oleh lingkungan.” Pungkas Dr Musriaparto, M.M.

Warek I UIN Ar Raniry Melaksanakan Kuliah Umum di STIT Hamzah Fansuri

Subulussalam 16 Agustus 2021

Sekolah tinggi Ilmu Tarbiyah Hamzah Fansuri Subulussalam Aceh, Kota Subulussalam Hari ini Gelar Kuliah Umum dengan tema “Pembinaan Mutu Akademik” bersama Dr. Drs. Tgk. H. Gunawan Adnan, M.A., Ph.D (Warek I UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan Asesor BAN-PT Nasional dan Dr. Musriaparto, M.M (Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Hamzah Fansuri, Subulussalam Aceh.

Kuliah umum ini dipandu oleh Moderator Rahyu Vini Busri, S.Pd., M.Pd (Ketua Program Studi Manajemen Pendidikan Islam STIT-HAFAS).

Selain Mahasiswa, kuliah umum ini juga dihadiri oleh Pejabat Struktural, Dosen dan tenaga Kependidkan STIT HAFAS Subulussalam Aceh.

Ketua STIT-HAFAS Subulussalam Aceh Dr. Musriaparto, M.M mengatakan bahwa “Kegiatan Kuliah Umum ini sudah direncanakan dari jauh hari, untuk pembinaan mutu akademik kampus STIT-HAFAS ini. “Saya menyambut gembira atas kesediaan bapak Dr. Drs. Tgk. H. Gunawan Adnan, M.A., Ph.D. Semoga ilmu yg beliau bawa kesini dapat bermanfaat dan menginspirasi bagi seluruh civitas akademika STIT Hamzah Fansuri,” Dr. Musriaparto menyampaikan harapannya.

Warek I UIN Ar Raniry yang menguasai 7 bahasa Asing ini mengawali materi dengan tem “The Concepts Of Quality.” Beliau mengatakan bahwa Mutu itu suatu keharusan bukan sebuah pilihan. Meskipun kita berada di daerah 3T (terdepan, terpencil dan tertinggal) sekalipun, jika memiliki mutu yang baik maka kita punya kesempatan untuk menjadi besar.

Lebih lanjut, pemateri yang memiliki dua gelar doktor ini juga menyampaikan tentang tantangan global, yakni kualitas untuk bersaing secara internasional itu benar-benar harus disiapkan jika tak ingin menjadi terbawa arus dan menjadi budak perubahan.