Tidak Main-main, STIT Hamzah Fansuri Masuk Babak Final di Ajang Nasional OASE

Abidin, mahasiswa STIT Hamzah Fansuri Kota Subulussalam  masuk babak final di ajang Nasional OASE 2021 cabang Qiraatul Kutub di Banda Aceh. Tentunya, hal ini menjadi momen penting bagi bangkitnya Perguruan Tinggi di Kota Subulussalam. STIT Hamzah Fansuri terus merangkul putra-putri terbaik Kota Subulussalam agar mampu terdorong mencapai prestasi akademik di level nasional maupun internasional. Dengan masuknya Abidin ke babak final, ada secercah harapan bahwa kampus-kampus lokal juga dapat bersaing di tingkat nasional.

 

Setiap Perguruan Tinggi Islam di Indonesia yang mengikuti OASE memang mengirimkan putra-putri terbaiknya untuk bersaing sehingga ajang tersebut bukanlah main-main. Abidin mengakui bahwa memang usaha untuk menyabet posisi di babak final bukanlah hal yang mudah, banyak sekali pesaing yang berasal dari pesantren atau pendidikan Islam yang mumpuni dalam Qiraatul Kutub. Namun, hal tersebut tidak serta-merta membuat Abidin minder dan kecut. Abidin membuktikan bahwa banyak sekali mahasiswa/i berbakat yang ada di Kota Subulussalam, sebab kurangnya akses sehingga mereka yang berpotensi kerap terkubur.

 

Dalam cabang perlombaan Qiraatul Kutub, Abidin membaca kitab Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid karangan Abu Al-Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Rusyd (Ibn Rusyd/Avverroes) seorang pembaharu jurisprudensi Islam (fiqh) dan filsuf Islam yang menginspirasi kemajuan peradaban Barat. Abidin cukup lancar membaca kitab babon tersebut beserta dengan penjelasan dari isi kitab tersebut secara lugas.

 

Keberhasilan Abidin mencapai babak final bukanlah hal yang tanpa kendala sama sekali. Ajang yang diadakan dengen metode daring tersebut sempat membuat Abidin kecut karena lemahnya sinyal membuat proses perlombaan sempat terputus-putus. Hal tersebut disebabkan oleh bencana banjir di Kota Subulussalam yang sempat diguyur hujan selama beberapa hari yang lalu. Namun, hal tersebut berhasil ditenggarai oleh Abidin karena memang Abidin telah menguasai pembacaan kitab Ibn Rusyd itu.

 

Pengalaman yang dihadapi Abidin memang menginspirasi sekaligus mengharukan. Dr Musriaparto, MM mengungkapkan bahwa memang akses STIT Hamzah Fansuri Kota Subulussalam belum sampai level teknologi dan pembangunan yang mumpuni, akan tetapi bukan berarti mahasiswa/i harus minder dan takut bermimpi besar.  “Memang kampus kita masih terbatas jika dibandingkan dengan kampus di Kota-kota besar. Tapi jangan salah, Mahasiswa/i STIT Hamzah Fansuri adalah orang-orang berbakat nan cerdas.  Nothing feels better than doing what people think you cannot do.” Kelakar Ketua STIT Hamzah Fansuri dengan candaan khas tapi tampak penuh keyakinan pada setiap kata-katanya.